|
|
 |
|
| Berita /
Perspektif |
|
CATATAN DARI SANGGAR Cogito Ergo Sum | | Oleh redaksi |
| Sabtu, 18-April-2009, 12:31:28 |
361 klik |
 |
 |
|
|
| Menangkap itu semua tentu saja membutuhkan sebuah kepekaan tersendiri. Rekaman itu hanya akan tergambar ketika kita mendasari semuanya dengan kerisauan. Kerisauan memang merupakan pintu awal dari proses berpikir. Hanya dari seseorang yang risau, sesuatu yang besar akan muncul. Dari kerisauan itu juga sebuah proses kreativitas bermula. |
|
|
Berpikirlah maka engkau akan ada,
Manusia diberi hadiah terbesar Tuhan yaitu akal dan pikir untuk menyempurnakan keberadaannya sebagai makhluk yang paling sempurna di antara semua ciptaan Tuhan yang ada di semesta ini. Manusia juga diberi tugas mulia untuk mengeksplorasi seluruh isi semesta ini untuk meningkatkan derajat kehidupan mereka.
Ketika manusia mulai berpikir maka hakikat kehidupan itu mulai ada. Mengeksplorasi semesta ini seakan tidak akan pernah habisnya. Kehidupan kita hari ini yang tidak bisa lepas dari teknologi informasi, rekayasa genetika yang kian menggila, dan berbagai penemuan obat atas penyakit-penyakit yang pada peradaban sebelumnya dianggap mematikan. Semuanya adalah produk eksplorasi kita. Eksplorasi yang didasarkan atas filosofi : berpikirlah maka engkau akan ada.
Namun, manusia bukanlah manusia yang selalu penuh dengan kesempurnaan. Di balik teknologi informasi yang semakin menggila ada miliaran metrik ton sampah silikon yang harus terbuang bersama dengan perkembangan berbagai piranti teknologi informasi. Rekayasa genetika yang kita lakukan terhadap berbagai produk pangan membuat kita hari-hari belakangan ini tubuh kita semakin akrab dengan penyimpangan sel yang kita kenal sebagai kanker. Hidup kita juga semakin akrab dengan berbagai penyakit yang tak hanya membuat mati dalam sekejap tetapi juga menggerogoti usia kita dalam jangka waktu yang panjang, menggerus daya tahan tubuh hingga kita tak berdaya lagi. Jika mau jujur, hari-hari ini kualitas kehidupan kita pasti akan sangat buruk bila dibandingkan dengan kualitas kehidupan generasi sebelumnya. Masalah sosial yang semakin pelik, daya dukung lingkungan yang terus merosot, dan kebiasaan hidup kita yang semakin tidak sehat adalah alasannya.
Ya, Tuhan memang menciptakan segalanya dalam dua kutub. Bipolar. Eksplorasi kita terhadap apapun selalu akan diikuti oleh kutub berikutnya yang bisa jadi merupakan sisi kontra dari hasil eksplorasi kita. Eksplorasi atas kehidupan selain menghasilkan sebuah simfoni keharmonisan tentu juga akan menghasilkan sebuah disharmoni yang akrab dengan diskontinuitas. Perkembangan pola pikir yang berorientasi pada satu jender tertentu akan menghasilkan represi sekaligus perlawanan.
Menangkap itu semua tentu saja membutuhkan sebuah kepekaan tersendiri. Rekaman itu hanya akan tergambar ketika kita mendasari semuanya dengan kerisauan. Kerisauan memang merupakan pintu awal dari proses berpikir. Hanya dari seseorang yang risau, sesuatu yang besar akan muncul. Dari kerisauan itu juga sebuah proses kreativitas bermula. Risau akan kehidupan ini, risau akan disharmoni dalam susunan sosial, dan risau akan masa depan tentu saja sangat bisa dituangkan dalam sebuah ruang bentuk bernama lukisan.
Inilah sebuah eksplorasi terbaru seorang Auly Kastari. Eksplorasi atas sisi lain kehidupan dan disharmoni relasi figur perempuan. Eksplorasi kehidupan digambarkannya dengan penggambaran teratai dan disharmoni figur dinyatakan dalam gambar-gambar bernuansa kritik. Hiduplah dalam sebuah simfoni harmonis, itulah cerita panjang yang mungkin tidak akan pernah habisnya dikupas. Seperti sajian karya Auly Kastari yang tidak akan pernah habis dinyatakan dalam kata karena menyimpan berjuta makna. Selamat menikmati!
|
| |
|
|
|
|
 |
| Bikin Web ? | Tersedia paket gampang dan murah, hubungi 024-33136913
|
|
|